
BOGOR– Matahari perlahan tergelincir di ufuk barat, membiarkan semburat jingga menghiasi langit di atas bangunan Pesantren Qur’an Hiswah. Udara sore yang sejuk membawa ketenangan, namun di dalam kompleks pesantren, ada denyut aktivitas yang khas dan penuh keberkahan. Inilah momen yang paling dinantikan oleh para penjaga kalam Allah: saat berbuka puasa.
Bagi para santri di Pesantren Qur’an Hiswah, buka puasa bukan sekadar urusan melepas lapar dan dahaga. Ia adalah sebuah madrasah tentang kesabaran, kebersamaan, dan rasa syukur yang mendalam.
Lantunan Zikir Sebelum Berbuka
Satu jam sebelum azan Maghrib berkumandang, suasana pesantren justru semakin syahdu. Alih-alih sibuk bersiap dengan takjil, para santri terlihat duduk rapi di masjid dan selasar dengan mushaf di tangan. Inilah tradisi “Ngabuburit Qur’ani” yang menjadi ciri khas Pesantren Qur’an Hiswah.
Suara dengungan ribuan ayat yang dibaca secara bersamaan menciptakan getaran spiritual yang menyejukkan hati. Bagi mereka, menanti waktu berbuka adalah waktu mustajab untuk melangitkan doa dan memperkokoh hafalan yang telah disetorkan sejak subuh tadi.
Hidangan Sederhana, Berkah Luar Biasa
Ketika waktu berbuka hampir tiba, para santri mulai membentuk lingkaran-lingkaran kecil (halakah). Di tengah mereka, tersaji hidangan sederhana—beberapa butir kurma, segelas air putih, dan takjil titipan dari para muhsinin (donatur).
Tidak ada kemewahan berlebih, namun binar kebahagiaan terpancar jelas dari wajah-wajah letih yang berpuasa. Di Pesantren Qur’an Hiswah, para santri diajarkan adab makan sesuai sunnah: mendahulukan syukur, tidak berlebihan, dan selalu berbagi dengan teman di sebelahnya.
“Nikmatnya buka puasa di pesantren itu ada pada kebersamaannya. Meskipun hanya dengan kurma dan air, rasanya jauh lebih nikmat karena kita membatalkannya bersama saudara seiman setelah seharian berjuang menjaga hafalan,” ungkap salah seorang santri dengan senyum tulus.
Syukur di Tengah Pemulihan
Momen buka puasa tahun ini terasa lebih bermakna. Mengingat perjuangan Pesantren Qur’an Hiswah yang tengah bangkit membangun kembali fasilitas pasca-musibah kebakaran asrama, setiap suapan nasi dan seteguk air menjadi pengingat betapa besarnya kasih sayang Allah melalui bantuan orang-orang baik di luar sana.
Setiap doa yang dipanjatkan sesaat sebelum membatalkan puasa selalu terselip nama-nama para donatur dan orang tua yang telah mendukung perjuangan mereka di jalan dakwah ini.

Energi Baru untuk Qiyamul Lail
Setelah azan berkumandang dan doa berbuka meluncur dari lisan mereka, suasana menjadi ceria namun tetap tertib. Energi yang masuk dari hidangan berbuka bukan untuk disia-siakan dengan berleha-leha. Justru, ini adalah “bahan bakar” baru bagi santri Pesantren Qur’an Hiswah untuk tegak berdiri melaksanakan salat Maghrib berjamaah, dilanjutkan dengan tilawah, hingga nanti melaksanakan salat Tarawih dan Qiyamul Lail.
Di Pesantren Qur’an Hiswah, setiap helai napas dan setiap butir nasi yang masuk ke tubuh para penghafal Al-Qur’an ini diharapkan menjadi kekuatan untuk terus menjaga cahaya wahyu tetap menyala di bumi pertiwi.
Mari Berbagi Kebahagiaan Berbuka!
Ingin merasakan aliran pahala dari setiap butir kurma yang disantap oleh para penghafal Al-Qur’an? Pesantren Qur’an Hiswah membuka kesempatan bagi Bapak/Ibu untuk berpartisipasi dalam program “Sedekah Ifthar Santri”.




